15 Day Book Blogging Challenge [Day 4: Terlanjur Bosan]

15-Day-Challenge

Hari keempat dengan pertanyaan buku apa yang ingin dilempar setelah membaca?

Sebenernya sih tidak ada buku yang saya jadikan bahan lemparan apalagi buat ngelempar tikus 😆 tidak, itu sayang sekali. Hanya saja kalau saya ditanya ada nggak buku yang bikin geregetan dan membuat saya segera menutup buku tanpa selesai membacanya, tentu ada. Belum lama ini saya sedang membaca Don’t Try This at Home karya Katie Pearson, tapi sampai sekarang belum juga selesai membacanya. Bahkan saya sudah melewati 3 buku lain yang saya baca terlebih dulu. Kenapa itu bisa terjadi? simpel aja, buku itu membuat saya bosan membacanya. Kalau dari segi ide cerita yang diambil sebenernya cukup bagus. Tentang seorang perempuan yang meninggalkan pekerjaannya karena dia harus berjuang menghadapi kanker yang dideritanya.

Membaca cerita dengan disisipi email sebagai bagian dari cerita itu sih oke saja, tapi kalau sepanjang novel adalah emai membuat saya stres juga bacanya. Akhirnya belum selesai saya baca buku itu dan entah sampai kapan akan saya lanjutkan lagi.

Jika ingin bergabung dengan challenge ini silahkan ke blog April ya 🙂

‘Ne..

Advertisements

15 Day Book Blogger Challenge [Day 3: My Blogging BFFs]

15-Day-Challenge

Pertanyaan untuk hari ketiga adalah Who Are Your Blogging BFFs?

Berhubung saya baru membuat blog yang khusus tentang buku jadi untuk teman2 dekat diantara blog buku saya masih belum ada. Tapi ada beberapa blog yang sering saya kunjungi dan baca reviewnya, meski kadang hanya menjadi silent reader saja. Salah satua blog yang menginspirasi saya untuk membuat blog khusus tentang buku adalah blog Lust and Coffee milik Yuska. Waktu itu saya juga nggak tahu dari mana asalanya sampai saya nyasar ke blognya :mrgreen:

Untuk blog kedua yang saya sering kunjungi adalah Petronela Putri Books milik @kopilovie kebetulan saya follow twitternya dan ada alamat blognya di sana. Beberapa kali berkunjung dan meninggalkan jejak di sana. Selebihnya saya masih acak membuka blog-blog buku yang ada, blogwalking dari satu blog ke blog yang lainnya. Untuk yang diwordpress sengaja saya follow biar bisa update postingan mereka.

Mungkin nanti saya akan menemukan blogger buku yang bisa dekat, kebetulan saya baru mendaftar BBI semoga bisa masuk dan mendapatkan teman-teman baru sesama pecinta buku 🙂

Ohya barangkali ada yang mau ikutan challenge ini? langsung datang aja ke blog April ya 😉

‘Ne..

18+(Kumpulan Cerita:Pop, R&B and Soul, Jazz)

18+

Judul : 18+

Penulis : Joe Andrianus, Nungkie Handayani, Hendri Yulius

Penerbit : Elex Media Komputindo

Jujur saja saya tertarik beli buku ini karena covernya yang menarik dan unik, dan juga judulnya . 18+ merupakan kumpulan cerita yang berisi 18 cerita tentang cinta. awalnya saya menyangka buku ini disertai CD lagu yang masing-masing ceritanya ada  lagu tersendiri, ternyata konsepnya saja yang seolah itu adalah sebuah album musik. Buku ini terdiri dari 3CD dengan 3 aliran musik yaitu Pop, R&B and Soul dan Jazz.

CD1 Pop: Love Is Sweet berisi 6 cerita-cerita manis tentang cinta yang ditulis oleh Joe Adrianus. Mencumbu Pantai Pada Suatu Senja, mengawali rangkaian kisah cinta di CD1 ini. Berkisah tentang kesetiaan seorang kekasih yang terus menunggu kekasihnya yang terbaring sakit. Kekasihnya yang begitu mencintai menikmati senja di tepi pantai.

Kamu dan laut, ibarat badai yang melumat ; meluluhlantakkan, walau mata ini hanya mampu memandang kalian, jauh. Walau telinga ini hanya mendengar, bisik.

 Selanjutnya Kangen dalam Secangkir Kopi, berkisah tentang seorang perempuan yang mencintai kakak sahabatnya sendiri, yang juga sesama perempuan. Pelangi Asmaranggana, cerita ketiga yang mengingatkan saya pada cerita mitos bidadari turun dari langit saat pelangi datang, sepertinya cerita ini pun terinspirasi dari mitos tersebut. Cerita keempat, Bahagia Itu Sederhana, Bara, masih bercerita tentang cinta sesama jenis. Cerita Kelima, Lukisan Beno dan cerita keenam Titip Rindu Kepada Sang Hujan.

Cerita dalam CD1 ini buat saya kalau boleh dibilang kurang greget atau mungkin saya saja yang kurang bisa menikmatinya. Entahlah, meski tidak bisa dibilang buruk karena beberapa tema cukup fresh tapi setelah membaca ya sudah, tidak ada yang terngiang-ngiang dan meninggalkan kesan mendalam.

CD2 R&B and Soul: Lost In Love, penulis Nunkie Handayani dan masih sama berisi 6 buah cerita tentang cinta yang terpendam ataupun yang bertepuk sebelah tangan. Cerita pertama, Andai Malam Tidak Membisu agak membuat bingung dengan tokoh ‘aku’ di sini. Cerita kedua, Setangkup Ciuman dalam Cerita Cinta Yang Bertepuk Sebelah Tangan. Cerita ketiga, Rindu yang Tak Kesampaian bercerita tentang seorang anak yang sedari kecil hingga besar selalu merindukan ibunya. Tertidur, merupakan judul cerita keempat dalam CD2 ini, cerita yang sedih dan tragis dan ini salah satu ceriita yang saya suka. Cerita kelima, Kisah tentang Seorang Penakluk dan Piaraannya juga saya suka, piaraan disini adalah seorang perempuan simpanan yang selalu dipenuhi segala kebutuhan hidupnya, hingga suatu saat majikannya memiliki piaraan ‘perempuan’ lain dan tidak pernah lagi bercinta dengannya, maka pada suatu malam dia menggigit penis majikannya dan melarikan diri dari rumah majikannya. Cerita terakhir, Rahasia Aku dan Hujan, seorang perempuan yang memiliki kemampuan mengendalikan hujan

Kamu hanya perlu percaya kepada kekuatanmu, bantulah lebih banyak manusia di bumi ini

CD3 Jazz: Love Kills, penulis Hendri Yulius menceritakan 6 kisah yang memang kadang absurd dan  susah dipahami, tapi begitulah cinta. Cerita-cerita pada CD3 ini mengingatkan saya pada cerpen-cerpen karya Djenar Maesa Ayu, bukan karena sama tapi dari segi ide dan penceritaannya. CD3 ini diawali dengan Kado Sepasang Payudara untuk Kekasihku, tentang kisah seorang perempuan yang sudah memiliki keluarga tapi masih diam-diam mencintai kekasihnya yang juga seorang perempuan. Kekasihnya yang begitu posesif dan sangat menicntainya mengiriminya kado ulang tahun berupa sepasang payudara miliknya sendiri. Perempuan itupun karena ingin selalu berada dekat dan menyatu dengan kekasihnya maka ia memutuskan untuk memasang payudara tersebut, hingga suatu malam saat dia bercinta dengan suaminya, payudaranya mengeluarkan air seperti menangis.

Ceriita kedua, Aku Tersenyum dengan Bibir Meringis, obsesi cinta yang menjadikan seorang lelaki mencuri senyum dari perempuan yang dicintainya. Tiga Sonata Cinta menjadi cerita ketiga dan berisi 3 kisah cinta yang sedih. Cerita keempat, Kencan singkat dengan Supermodel yang ini ceritanya ngetwist deh. Cerita kelima, Boneka Ibu, cinta sederhana dalam kepolosan yang justru membawa petaka. dan yang terakhir adalah Cerita Pendek tentang Ciuman Pendek, sebuah perjalanan seorang perempuan mengejar impiannya untuk mendapatkan ciuman dari seseorang seperti kisah para putri dan  pangeran dari dalam dongeng.

Dari ketiga CD di atas yang paling saya nikmati adalah CD3 Jazz, hampir semua ceritanya saya suka dan juga quotenya:

Cinta tak selamanya indah: ada saatnya ia tampil absurd dan mustahil untuk dipahami, hadir tiba-tiba hanya untuk meninggalkan rasa perih, atau meracuni seseorang tanpa ada penawarnya.

‘Ne..

15 Day Book Blogger Challenge [Day 2: Bedtime Reading Ritual]

15-Day-Challenge

Hari ke 2 dari 15 Day Book Blogger Challenge adalah Bedtime Reading Ritual

Kalau berdoa itu sudah pasti ya dilakukan sebelum tidur, dan berhubung saya nggak terlalu suka nonton TV kecuali ada film favorit, saya pasti baca buku dulu. Apalagi kalau memang sedang ada buku yang dibaca, paling sempat untuk baca ya pas sebelum tidur sembari nunggu ngantuk.

Jadi setelah bersih-bersih sebelum tidur, saya bawa buku ke tempat tidur dan baca sampai kadang ketiduran juga. Baca buku sebelum tidur itu cepet banget bikin ngantuk lho, kayaknya bagus juga tuh buat terapi yang insomnia 😆

Ohya kalau ada yang mau ikutan boleh aja silahkan klik di blognya April 🙂

‘Ne..

15 DBBC : My Confessions

Sengaja ikutan biar bisa update blog buku ini yang lama terbengkalai 🙂

Challenge ini berupa pertanyaan yang harus dijawab dan karena challengenya memang 15 hari jadi satu hari satu pertanyaan. Tapi kalau saya kayaknya nggak bisa setiap hari berturut-turut :mrgreen:

Untuk hari ke-1 membuat 15 pengakuan yang berhubungan dengan buku, dan inilah pengakuan saya 😀

1. Mewajibkan diri sendiri, paling tidak dalam satu bulan harus ada buku yang dibeli. Kalau soal ini sih, nggak diwajibkan pun banyak banget buku-buku yang pengen dibeli 😀

2. Suka banget bau buku baru, kalau pertama beli pasti pas dibuka langsung tanpa sadar nyiumin bau bukunya. Nggak tahu yah,  jadi semacam ritual atau kebiasaan 😆

3. Suka kalau harus nyampulin buku, nyampulin buku dengan sampul plastik bisa menjadi semacam relaksasi kalau buat saya, tenang dan menghanyutkan lama-lama ngantuk deh matanya haha. Kadang suka gatel kalau pas pinjem buku orang lain dan ternyata belum disampulin, jadi biasanya disampulin skalian hehe. Yah, itung-itung buat tanda terima kasih karena udah dipinjemin baca.

4. Kalau lagi ada book fair dan semacamnya biasanya merasa sayang kalau harus pulang cuma bawa satu dua buku, jadilah  borong sekalian, biasa aji mumpung, mumpung murah haha.

5. Sebelum tidur pasti bawa buku yang lagi dibaca ke tempat tidur, meski kadang juga nggak lanjut baca tapi ngerasa tenang kalau ada buku di sebelahnya. sebenernya sih biar kalau pas di tempat tidur pengen baca ya tinggal buka aja.

6. Membaca dengan pembatas buku itu wajib. Nggak suka banget kalau ada yang pinjam buku dan bacanya dengan cara melipat halaman, sebel banget deh. Makanya buku-buku selalu  saya beri pembatas terutama buku yang tidak ada pembatas bawaannya, biasanya yang dijadikan pembatas itu sticker2, atau gantungan merk baju atau celana :mrgreen:

7. Paling seneng nyebarin virus membaca sama orang-orang sekitar, kalau udah ada yang mulai berminat pasti deh  saya tawarin buku-buku saya untuk dia pinjem dan baca. Ingin membudayakan membaca dengan orang-orang dekat dan sekitar dulu.

8. Pecinta karya sastra dalam negeri, jadi kebanyakan hampir 90 persen koleksi buku itu karangan penulis dalam negeri. Nggak harus yang udah terkenal, kalau emang bukunya bagus meski baru nulis satu buku ya beli aja.

9. Seneng banget kalau dapet kado buku. *kode apa kode ini :mrgreen:

10. Sebelum beli buku selalu baca sinopsisnya dulu, atau kalau memang ada yang sudah dibuka ya dibaca-baca dulu, tertarik isinya beli kalau nggak ya nggak jadi beli.

11. Saya selalu memberi label pada buku saya seperti ini: Pustaka Pribadi, nama, alamat, dan blog. Tujuannya agar kalau ada yang pinjam dan dipinjamkan lagi nggak lupa untuk mengembalikannya 😆 lebih tepatnya memudahkan untuk pengembalian. Kadang saya sendiri lupa siapa yang pinjam buku apa. Kebanyakan juga nggak balik bukunya 😦

12. Kalau suka sama sebuah buku, nggak puas kalau cuman pinjem, jadi harus beli, karena suatu saat bisa dibaca ulang. Apalagi kalau bukunya menginspirasi.

13. Saya tidak terpaku pada satu jenis genre, tapi paling suka sastra Indonesia, dan kurang suka dengan cerita horor 🙂

14. Berhenti baca  buku di tengah jalan kalau bukunya membosankan, dan ditinggal baca buku yang lain dulu. Kalau sudah kehabisan bacaan baru deh dibaca lagi.

15. Impian, bukan hanya ingin menjadi pembaca tapi juga memiliki karya atau buku yang dibaca orang lain. Sementara baru satu antologi bareng temen-temen, next ingin karya sendiri yang keluar.. Semoga terwujud.. aamiin.

Nah itu dia pengakuan saya tentang segala hal yang berhubungan dengan buku 😀

Ada yang berminat ikutan? langsung saja ke tekape di blog April.

Air Mata Retak

Air mata retak

credit

Penulis   : Marhaeni Eva

Tahun     : 2009

ISBN        : 9789790259409

Penerbit : Grasindo

Bahasa   : Indonesia

Kali ini saya ingin menuliskan tentang salah satu novel sastra yang paling saya sukai dan sudah saya baca beberapa kali. Bukan dari penulis yang terkenal tapi bagi saya buku ini memberikan banyak pelajaran. Buku ini berjudul “Air Mata Retak” ditulis oleh seorang perempuan kelahiran Solo-Jawa Tengah, bernama Marhaeni Eva. Pertama kali melihat buku ini saya langsung tertarik dengan judul dan sampulnya yang unik. Selain itu juga dari kata-kata yang tertulis di bawah judul: “Kukenang dan kupelihara koyak moyak ini, hingga dunia menghilang dari pandangku”

Buku ini menceritakan tentang seorang perempuan bernama Nawangsasi, yang berjuang untuk mandiri, menegakkan hak untuk bersuara dan menjadi diri sendiri. Meski dia harus membayar mahal untuk kebebasan yang ingin diraihnya itu. Bukan saja dia harus terusir dari rumahnya, dikucilkan oleh keluarga dan sekelilingnya, tapi dia juga harus kehilangan buah hatinya. Meskipun akhirnya dia berhasil meraih apa yang menjadi cita-citanya, dia menjadi pelukis terkenal dan juga penari yang hebat. Tapi semua itu harus diraihnya melewati jalan yang terjal dan lembah derita. Dari semua perjalanan hidupnya yang penuh derita, kehilangan buah hatinya adalah merupakan derita batin seumur hidup dan sekaligus episode terpahit dari perjalanan hidupnya.

Dikisahkan bahwa Nawangsasi terusir dari rumahnya karena bertentangan dengan ayahnya yang masih menganut sistem patriarki, yang tidak memberikan ruang kebebasan bagi perempuan untuk menentukan nasib dan jalan hidupnya sendiri. Keinginan Nawangsasi untuk menjadi pelukis dan juga penari di tentang keras oleh ayahnya dan juga oleh kakak laki-lakinya. Kemudian dalam perjalanan cintanya Nawangsasi harus menghadapi pengkhianatan oleh seorang lelaki yang telah menanamkan benih dalam rahimnya, lelaki tersebut memilih menikah dengan perempuan lain pilihan ibunya. Bukan itu saja tapi dia juga harus kehilangan buah hatinya yang di renggut oleh ibu dari kekasihnya itu, seorang ibu yang tega dan kejam terhadap sesama perempuan.

Tertatih-tatih Nawangsasi bangkit dari kubangan luka sendirian, hingga akhirnya dia berhasil mendapatkan yang dia inginkan. Sampai akhirnya dia bertemu dengan seorang lelaki bernama Djati, lelaki yang juga memiliki masa lalu yang kelam. Tapi bukankah dua jiwa yang sama-sama terluka bertemu maka keduanya akan saling mengobati? begitu juga yang terjadi dengan mereka. Namun rasa kehilangan dan kerinduan yang dalam terhadap buah hatinya tetap tidak pernah bisa dia hilangkan. Semua kepahitan hidupnya dia tuangkan ke dalam karyanya, dan terciptalah salah satu lukisan yang menjadi masterpeace dengan judul “Air Mata Retak” sebuah lukisan yang bukan hanya misterius tapi juga puitis. Dalam lukisan itu tertulis sebait puisi bernada getir namun indah:

semua orang selalu mempunyai alasan untuk melukai yang lain

tak terkecuali engkau

silahkan lukai diriku

aku batu!

angin

air

aku tak lagi berkata

aku tidak lagi ada di mana kamu ada

musnah aku!

Jujur saja ketika saya membaca novel ini saya tersedot ke dalam arus ceritanya, benar-benar menguras emosi dan seolah sayalah yang mengalaminya. Dengan gaya bahasa yang memang saya sukai, alur flashback tentang kisah Nawangsasi yang diceritakan olehnya pada kekasihnya Djati menjadi kenikmatan tersendiri saat membacanya. Novel ini membuat saya memahami beratnya perjuangan seorang perempuan dalam dunia yang masih di kuasai oleh budaya patriarki, juga ketegaran dan kekuatan yang menjadi contoh bagi saya.

 

Review ini diikutkan dalam 2013 Indonesian Romance Reading Challenge

Galaksi Kinanthi

image

Buku ini terbit pada tahun 2009, Buku dengan judul Galaksi Kinanthi (Sekali Mencintai Sudah Itu Mati), karya dari Tasaro GK. Buku ini mengisahkan tentang seorang perempuan bernama Kinanthi yang berarti pelipur lara, dan juga merupakan salah satu tembang jawa. Kinanthi dikucilkan di desanya di wilayah Gunung Kidul, karena dia terlahir dari keluarga miskin, bapaknya seorang penjudi, ibunya dianggap perempuan baulawean atau yang memiliki suami banyak tapi mati semua. Masyarakat hanya bisa mencemooh dan menghinanya, semua keluarga melarang anaknya berteman dengan Kinanthi. Termasuk keluarga seorang Rois atau bisa juga disebut ulama di desa tersebut, keluarga tersebut memilik seorang anak laki-laki bernama Ajuj, yang berarti bintang. Ajuj inilah satu-satunya anak yang mau berteman dengan Kinanthi. Ajuj lah yang selalu membela Kinanthi ketika diolok-olok.

Saat itu Ajuj berumur 13 tahun dan Kinanthi 2 tahun di bawahnya. Setiap hari mereka bersama-sama, mencari yuyu atau kepiting di pantai, atau menatap langit malam dan bercerita tentang rasi bintang. Bahkan Ajuj memberikan sebuah nama pada sebuah galaksi yang dia temukan, Ajuj mengatakan sesuatu yang akan dikenang sepanjang perjalanan hidup Kinanthi, “Nanti, kalau kita ndak bersama lagi, terus kamu cari aku, kamu lihat aja ke langit sana, Thi. Cari Gubuk Penceng. Di bawahnya ada galaksi yang tidak terlihat, Namanya Galaksi Cinta. Aku ada di situ.” Kinanthi yang saat itu masih belia tentu saja belum mengerti apa maksud dari kata-kata Ajuj.

Persahabatan mereka terus berlanjut meski ada begitu banyak pertentangan dan cibiran. Hingga suatu hari, sebuah mobil membawa paksa Kinanthi. Bapaknya Kinanthi terpaksa merelakan anaknya dibeli oleh keluarga Edi dari Bandung dengan bayaran 50 kg beras, niat bapaknya hanyalah agar Kinanthi bisa bersekolah dan hidup lebih layak dibandingkan keluarganya. Memang benar Kinanthi akhirnya bersekolah di Bandung hingga SMA tapi itu tidak gratis, Kinanthi diperlakukan seperti budak di rumah itu. Makanan pun diberi nasi basi dan garam saja. Sering Kinanthi berpikir untuk minggat dari rumah itu, tapi dia masih bisa berpikir bahwa dia butuh sekolah. Segala penderitaan dia tanggung demi bisa bersekolah, beruntung Kinanthi memang anak yang cerdas dan pintar. Sayang sekolah Kinanthi tidak selesai, karena suatu fitnah dari seorang cowok yang cintanya ditolak oleh Kinanthi, hingga Kinanthi dikeluarkan dari sekolah. Lagi pula Kinanthi disekolahkan oleh keluarga Edi hanya untuk dipersiapkan sebagai tenaga kerja wanita di Arab Saudi. Usianya yang saat itu baru 14 tahun dipalsu menjadi 17 tahun.

Setting cerita berpindah ke Arab Saudi, di sana Kinanthi bekerja sebagai penjahit tapi. Majikannya kejam dan seringkali berusaha memperkosa Kinanthi, tapi Kinanthi selalu bisa lolos dibandingkan teman-temannya, karena Kinanthi selalu membawa pisau dibalik bajunya. Sampai akhirnya Kinanthi berhasil meloloskan diri dan melaporkan ke KBRI di sana. Di sini juga diceritakan ada banyak masalah yang terjadi pada para TKI yang ada di Arab Saudi. Kinanthi bertemu dengan seseorang yang membantunya untuk berbicara pada KBRI, tapi pada saat kinanthi menunggu di ruang tunggu dia didatangi oleh mafia tenaga kerja wanita yang berhasil membujuknya untuk ikut dengan segala tipu muslihat. Dibawalah Kinanthi ke Kuwait dan dijual kembali kepada majikan yang sama kejamnya. Kembali lagi Kinanthi berhasil meloloskan diri dan melapor lagi ke KBRI dengan dibantu oleh seorang perempuan dari Indonesia yang mengikuti suaminya bertugas di Kuwait. Tapi Kinanthi selalu mendapatkan majikan yang kejam hingga di penampungan itu Kinanthi memegang rekor sebagai tenaga kerja yang keluar masuknya paling sering. Hingga akhirnya ada seorang keluarga Kuwait yang berminat untuk membawanya ke Amerika, keluarga tersebut akan melanjutkan S3 dan membutuhkan pembantu rumah tangga yang bisa berbahasa inggris, karena di penampungan itu hanya Kinanthi yang bisa berbahasa inggris, maka dipilihnya Kinanthi.

Di Amerika, sama saja perlakuan yang dia dapatkan bahkan lebih kejam bahkan dia nyaris diseterika oleh majikan perempuannya. Siksaan dia terima bertubi-tubi, tapi sekali lagi Kinanthi melawannya dan akhirnya berhasil melarikan diri. Tibalah dia di sebuah masjid di Miami, di sana dia bertemu dengan Arsy perempuan muslim yang berasal dari Mesir, dia adalah istri seorang dokter anak. Kinanthi di bawanya bertemu dengan perempuan kenalannya bernama Miranda yang berasal dari Indonesia. Miranda dan Arsy membantunya untuk meminta suaka politik pada pemerintahan Miami. Pada saat sidang itulah Kinanthi menceritakan setiap detail kejadian dari awal dia dibawa dari rumahnya sampai dia tiba di Amerika. Akhirnya hakim memutuskan: “Atas nama negara Amerika, kami putuskan Kinanthi diberi hak untuk bersekolah dengan biaya negara, pekerjaan dengan gaji minimum, mendapat tempat tinggal, diberi jaminan pelayanan kesehatan seumur hidup, dan kebebasan untuk menjalankan ibadah sesuai dengan agamanya.”

Di Amerika itulah akhirnya Kinanthi bermetamorfosis, namanya  menjadi Kinanthi Hope, seorang profesor muda terkenal dan juga seorang penulis kaliber di New York, siapa yang tidak mengenal Kinanthi Hope di sana. Impiannya terwujud justru di negara yang jauhnya bermil-mil dari tempat lahirnya. Perempuan miskin yang berusaha mengejar impian untuk mengangkat hajat hidup keluarganya, ingin bersekolah meski melewati siksaan demi siksaan dari tempat tinggalnya di Gunung Kidul, Bandung, Riyadh-Arab Saudi, Kuwait sampai Amerika. Kesuksesannya tidak pernah membuat Ia lupa pada kampung halamannya dan juga pada Ajuj, seseorang yang sudah tidak lagi sekedar menjadi sahabat baginya. Kinanthi pulang untuk menengok kampung halamannya, dan saat itu lah ada gempa bumi yang mencelakakan Ajuj hingga koma. Kisah selanjutnya tentang perjuangan cinta Kinanthi.

Saya tidak akan menceritakan detailnya bagaimana tentang kisah Kinanthi dan Ajuj, yang penasaran baca sendiri aja ya hehe. Setelah membaca ini saya kagum dengan cara Tasaro GK menuturkan secara detail dan dengan gaya bahasa yang bagus sekali. Ada banyak yang bisa diambil dari cerita ini, tentang ilmu perbintangan yang dituturkan oleh Ajuj, tentang keindahan pantai gunung kidul yang keren-keren banget (ini yang bikin saya pengen banget ke sana), tentang humanisme, agama, dan tentang penjualan perempuan melalui kisah Kinanthi. Tentang bagaimana kemiskinan mampu menghancurkan masa depan,  juga tentang masalah TKW yang sangat banyak kita jumpai dan masih lambat dalam penanganannya. Saya sengaja mengambil buku ini untuk direview tepat dengan bulan April, hari Kartini, juga karena saat ini kita lihat di berbagai media tentang TKW kita yang sedang berjuang untuk mendapatkan pembebasan dari hukuman mati. Miris? tentu saja TKW yang notabene memberikan devisa terbesar bagi negara kita tapi justru ada banyak dari mereka yang terlantar dan bahkan tak sedikit menjadi korban dari kekejaman para majikan mereka. Bagaimana jika salah satu dari mereka adalah keluarga kita?

Pokoknya buku ini penuh dengan lika-liku kehidupan dan cinta, seperti pelangi kehidupan yang berwarna-warni deh 😉 Buku ini sebenarnya tentang cinta antara Kinanthi dan Ajuj, tapi saya sengaja menampilkan sisi humanismenya 😀

 

note: repost dari blog yang sudah pensiun

Ne..

penikmat novel