15 DBBC Day 5: Menguras Air Mata

15-Day-Challenge

Hari kelima dalam 15 Day Book Blogging Challenge : Recommend A Tear Jerker

Buat saya ada beberapa buku yang saat membacanya benar-benar menguras emosi dan air mata, diantaranya Air Mata Retak karya Marhaeni Eva yang sudah pernah saya review.

Air mata retak

Kukenang dan kupelihara koyak moyak ini, hingga dunia menghilang dari pandanganku

Bagaimana rasanya diasingkan oleh keluarga, dikhianati kekasih dan buah hatinya direnggut dengan paksa? Begitulah kisah yang dialami oleh Nawangsasi. Jalan panjang penuh derita Ia lalui dengan tegar, tapi bagaiamanapun juga luka batin pelan-pelan menggerogoti raganya. Meski sad ending, tapi saya tetap puas membacanya sampai tuntas.

Lalu buku yang lain adalah Moga Bunda Disayang Allah karya Tere Liye, yang baru-baru ini filmnya juga keluar, perjuangan seorang bunda yang memiliki seorang putri yang menjadi buta dan tuli. Nangis habis pas si Karang mengajari Melati untuk bisa mengerti dan memahami dunia yang tidak lagi bisa ia dengar dan lihat, menangis saat membayangkan menjadi Bundanya melati šŸ˜¦

wpid-galaksi-kinanthi_depan_ok1.jpg

Buku ketiga, adalah Galaksi Kinanthi dari Tasaro GK, buku ini juga pernah saya review di awal postingan blog ini.

Nanti, kalau kita ndak bersama lagi, terus kamu cari aku, kamu lihat aja ke langit sana, Thi. Cari Gubuk Penceng. Di bawahnya ada galaksi yang tidak terlihat, Namanya Galaksi Cinta. Aku ada di situ.

Perjalanan penuh liku dan derita dari seorang Kinanthi yang akhirnya membuatnya menjadi penulis terkenal di New York. Meski begitu dia selalu teringat dengan Ajuj, sahabat masa kecil dan sekaligus orang yang Ia cintai. Seperti apa kisahnya? silahkan bisa dibaca review saya di sini šŸ™‚

Itulah salah tiga buku-buku yang sukses membuat saya menangis.

Ada yang ingin ikutan challenge ini, silahkan cek ke blognya April ya šŸ˜€

‘Ne Margane

Advertisements

Air Mata Retak

Air mata retak

credit

PenulisĀ  Ā : Marhaeni Eva

TahunĀ Ā Ā  Ā : 2009

ISBNĀ Ā Ā Ā Ā Ā  Ā : 9789790259409

Penerbit : Grasindo

BahasaĀ Ā  : Indonesia

Kali ini saya ingin menuliskan tentang salah satu novel sastra yang paling saya sukai dan sudah saya baca beberapa kali. Bukan dari penulis yang terkenal tapi bagi saya buku ini memberikan banyak pelajaran. Buku ini berjudul ā€œAir Mata Retakā€ ditulis oleh seorang perempuan kelahiran Solo-Jawa Tengah, bernama Marhaeni Eva. Pertama kali melihat buku ini saya langsung tertarik dengan judul dan sampulnya yang unik. Selain itu juga dari kata-kata yang tertulis di bawah judul: ā€œKukenang dan kupelihara koyak moyak ini, hingga dunia menghilang dari pandangkuā€

Buku ini menceritakan tentang seorang perempuan bernama Nawangsasi, yang berjuang untuk mandiri, menegakkan hak untuk bersuara dan menjadi diri sendiri. Meski dia harus membayar mahal untuk kebebasan yang ingin diraihnya itu. Bukan saja dia harus terusir dari rumahnya, dikucilkan oleh keluarga dan sekelilingnya, tapi dia juga harus kehilangan buah hatinya. Meskipun akhirnya dia berhasil meraih apa yang menjadi cita-citanya, dia menjadi pelukis terkenal dan juga penari yang hebat. Tapi semua itu harus diraihnya melewati jalan yang terjal dan lembah derita. Dari semua perjalanan hidupnya yang penuh derita, kehilangan buah hatinya adalah merupakan derita batin seumur hidup dan sekaligus episode terpahit dari perjalanan hidupnya.

Dikisahkan bahwa Nawangsasi terusir dari rumahnya karena bertentangan dengan ayahnya yang masih menganut sistem patriarki, yang tidak memberikan ruang kebebasan bagi perempuan untuk menentukan nasib dan jalan hidupnya sendiri. Keinginan Nawangsasi untuk menjadi pelukis dan juga penari di tentang keras oleh ayahnya dan juga oleh kakak laki-lakinya. Kemudian dalam perjalanan cintanya Nawangsasi harus menghadapi pengkhianatan oleh seorang lelaki yang telah menanamkan benih dalam rahimnya, lelaki tersebut memilih menikah dengan perempuan lain pilihan ibunya. Bukan itu saja tapi dia juga harus kehilangan buah hatinya yang di renggut oleh ibu dari kekasihnya itu, seorang ibu yang tega dan kejam terhadap sesama perempuan.

Tertatih-tatih Nawangsasi bangkit dari kubangan luka sendirian, hingga akhirnya dia berhasil mendapatkan yang dia inginkan. Sampai akhirnya dia bertemu dengan seorang lelaki bernama Djati, lelaki yang juga memiliki masa lalu yang kelam. Tapi bukankah dua jiwa yang sama-sama terluka bertemu maka keduanya akan saling mengobati? begitu juga yang terjadi dengan mereka. Namun rasa kehilangan dan kerinduan yang dalam terhadap buah hatinya tetap tidak pernah bisa dia hilangkan. Semua kepahitan hidupnya dia tuangkan ke dalam karyanya, dan terciptalah salah satu lukisan yang menjadiĀ masterpeaceĀ dengan judul ā€œAir Mata Retakā€ sebuah lukisan yang bukan hanya misterius tapi juga puitis. Dalam lukisan itu tertulis sebait puisi bernada getir namun indah:

semua orang selalu mempunyai alasan untuk melukai yang lain

tak terkecuali engkau

silahkan lukai diriku

aku batu!

angin

air

aku tak lagi berkata

aku tidak lagi ada di mana kamu ada

musnah aku!

Jujur saja ketika saya membaca novel ini saya tersedot ke dalam arus ceritanya, benar-benar menguras emosi dan seolah sayalah yang mengalaminya. Dengan gaya bahasa yang memang saya sukai, alur flashback tentang kisah Nawangsasi yang diceritakan olehnya pada kekasihnya Djati menjadi kenikmatan tersendiri saat membacanya. Novel ini membuat saya memahami beratnya perjuangan seorang perempuan dalam dunia yang masih di kuasai oleh budaya patriarki, juga ketegaran dan kekuatan yang menjadi contoh bagi saya.

 

Review ini diikutkan dalam 2013 Indonesian Romance Reading Challenge