Jual Buku Koleksi Pribadi

Hai hai para pecinta buku, apa kabar semua? semoga masih selalu ada rejeki untuk membeli buku-buku yaa.. 😀

Kebetulan saya sedang ingin mengurangi timbunan di rak buku dan ingin menjual beberapa koleksi pribadi saya siapa tahu ada yang berminat. Buku-buku dalam keadaan masih bagus tidak ada halaman yang hilang, buku bersampul plastik, tidak ada lipatan dan pada beberapa buku di halaman pertama ada inisial saya dan tanggal pembelian.

Berikut buku-bukunyaa..

1. Bukan Saya, Tapi Mereka Yang Gila! – Stefani Hid (SOLD)

imageHarga Rp. 20.000

 

2. Soulmate (Belahan Jiwa) – Stefani Hid

imageHarga Rp. 20.000

3. Cerita Dante – Stefani Hid (SOLD)

imageHarga Rp. 15.000

 

4. OZ – Stefani Hid

imageHarga Rp. 17.000

 

5. Saman – Ayu Utami

imageHarga Rp. 28.000

6. Larung – Ayu Utami (SOLD)

imageHarga Rp. 26.000

 

7. Jangan Main-Main (dengan kelaminmu) – Djenar Maesa Ayu (SOLD)
image
Harga Rp. 28.000

8. Cerita Pendek Tentang Cerita Cinta Pendek – Djenar Maesa Ayu (SOLD)
image
Harga Rp. 20.000

9. Imipramine – Noriyu

image
Harga Rp. 19.000

Naah silahkan dipilih dipilih siapa yang mauu 😀

Jika berminat bisa hubungi ke email nemargane (at) ymail (dot) com atau ke Pin BB : 7CD36880

*Rekening yang tersedia BCA dan Mandiri

Terima Kasih 🙂

Air Mata Retak

Air mata retak

credit

Penulis   : Marhaeni Eva

Tahun     : 2009

ISBN        : 9789790259409

Penerbit : Grasindo

Bahasa   : Indonesia

Kali ini saya ingin menuliskan tentang salah satu novel sastra yang paling saya sukai dan sudah saya baca beberapa kali. Bukan dari penulis yang terkenal tapi bagi saya buku ini memberikan banyak pelajaran. Buku ini berjudul “Air Mata Retak” ditulis oleh seorang perempuan kelahiran Solo-Jawa Tengah, bernama Marhaeni Eva. Pertama kali melihat buku ini saya langsung tertarik dengan judul dan sampulnya yang unik. Selain itu juga dari kata-kata yang tertulis di bawah judul: “Kukenang dan kupelihara koyak moyak ini, hingga dunia menghilang dari pandangku”

Buku ini menceritakan tentang seorang perempuan bernama Nawangsasi, yang berjuang untuk mandiri, menegakkan hak untuk bersuara dan menjadi diri sendiri. Meski dia harus membayar mahal untuk kebebasan yang ingin diraihnya itu. Bukan saja dia harus terusir dari rumahnya, dikucilkan oleh keluarga dan sekelilingnya, tapi dia juga harus kehilangan buah hatinya. Meskipun akhirnya dia berhasil meraih apa yang menjadi cita-citanya, dia menjadi pelukis terkenal dan juga penari yang hebat. Tapi semua itu harus diraihnya melewati jalan yang terjal dan lembah derita. Dari semua perjalanan hidupnya yang penuh derita, kehilangan buah hatinya adalah merupakan derita batin seumur hidup dan sekaligus episode terpahit dari perjalanan hidupnya.

Dikisahkan bahwa Nawangsasi terusir dari rumahnya karena bertentangan dengan ayahnya yang masih menganut sistem patriarki, yang tidak memberikan ruang kebebasan bagi perempuan untuk menentukan nasib dan jalan hidupnya sendiri. Keinginan Nawangsasi untuk menjadi pelukis dan juga penari di tentang keras oleh ayahnya dan juga oleh kakak laki-lakinya. Kemudian dalam perjalanan cintanya Nawangsasi harus menghadapi pengkhianatan oleh seorang lelaki yang telah menanamkan benih dalam rahimnya, lelaki tersebut memilih menikah dengan perempuan lain pilihan ibunya. Bukan itu saja tapi dia juga harus kehilangan buah hatinya yang di renggut oleh ibu dari kekasihnya itu, seorang ibu yang tega dan kejam terhadap sesama perempuan.

Tertatih-tatih Nawangsasi bangkit dari kubangan luka sendirian, hingga akhirnya dia berhasil mendapatkan yang dia inginkan. Sampai akhirnya dia bertemu dengan seorang lelaki bernama Djati, lelaki yang juga memiliki masa lalu yang kelam. Tapi bukankah dua jiwa yang sama-sama terluka bertemu maka keduanya akan saling mengobati? begitu juga yang terjadi dengan mereka. Namun rasa kehilangan dan kerinduan yang dalam terhadap buah hatinya tetap tidak pernah bisa dia hilangkan. Semua kepahitan hidupnya dia tuangkan ke dalam karyanya, dan terciptalah salah satu lukisan yang menjadi masterpeace dengan judul “Air Mata Retak” sebuah lukisan yang bukan hanya misterius tapi juga puitis. Dalam lukisan itu tertulis sebait puisi bernada getir namun indah:

semua orang selalu mempunyai alasan untuk melukai yang lain

tak terkecuali engkau

silahkan lukai diriku

aku batu!

angin

air

aku tak lagi berkata

aku tidak lagi ada di mana kamu ada

musnah aku!

Jujur saja ketika saya membaca novel ini saya tersedot ke dalam arus ceritanya, benar-benar menguras emosi dan seolah sayalah yang mengalaminya. Dengan gaya bahasa yang memang saya sukai, alur flashback tentang kisah Nawangsasi yang diceritakan olehnya pada kekasihnya Djati menjadi kenikmatan tersendiri saat membacanya. Novel ini membuat saya memahami beratnya perjuangan seorang perempuan dalam dunia yang masih di kuasai oleh budaya patriarki, juga ketegaran dan kekuatan yang menjadi contoh bagi saya.

 

Review ini diikutkan dalam 2013 Indonesian Romance Reading Challenge